Translate

Jumat, 12 April 2013

KEBUDAYAAN



A. Hakekat Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata “budaya”. Budaya diserap dari bahasa Sanskerta “buddhayah” yaitu bentuk jamak dari “buddhi “ yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang barsangkutan dengan akal”.(Koentjaraningrat, 2009:146) Dalam bahasa sehari-hari kebudayaan dibatasi hanya pada hal-hal yang indah seperti candi, tarian-tarian, seni rupa, seni suara, kesusastraan dan filsafat saja. Sedangkan dalam ilmu antopologi jauh lebih luas sifat dan ruang lingkupnya. Menurut ilmu antropologi kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.( Koentjaraningrat, 2009: 144)
Banyak definisi-definisi yang dikemukakan tokoh-tokoh namun semuanya berprinsip sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia, meliputi perilaku dan hasil kelakuan manusia yang didalam tatakelakuan dan diperoleh dengan belajar yang semua tersusun dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu dalam masyarakat kebudayaan sering diartikan sebagai the general body of the art. Kesimpulannya kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. (Djoko Widagdo dalam Sujarwo, 1998:9)

B. Kebudayaan dan Peradaban

Selain istilah “kebudayaan” (culture) ada juga istilah lain yaitu “peradaban” (civilization). Kebudayaan sebagai bagian dari lingkungan buatan manusia / Man made part of the environmen (Melville J. Herskovits dalam Sujarwo, 1998: 8) . Wujud kebudayaan dibagi menjadi 3, yaitu:
a.       Suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainta.
b.      Suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c.       Suatu benda-benda hasil karya manusia ( Koentjaraningrat, 2009: 150).

 Peradaban adalah memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang kompleks, dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial. Wujud – wujud peradaban itu sendiri ada 5, beberapa diantaranya ada nilai, moral, norma, etika, dan estetika. Istilah “peradaban” sering juga dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, dan sistem kenegaraan dari masyarakat kota yang maju dan kompleks.
Menurut Koentjaraningrat, peradaban menekankan kepada 2 unsur, antara lain :
a.       Unsur akal (tingkat berpikir), unsure ini lebih banyak diterapkan pada dunia Barat. Sehingga dikalangan orang barat, kemajuan dalam bidang IPTEK lebih dahulu dibandingkan dengan nurani.
b.      Unsur nurani (perasaan/estetis), di dunia Timur unsure ini lebih banyak diterapkan karena lebih mengutamakan hati nurani (perasaan) dibanding dengan akal (ratio).

Sedangkan menurut Rohiman Notowidagdo, dengan adanya perbedaan peradaban tersebut, sehingga seringkali terjadi disharmoni antara pikiran Barat dan Timur. Hal ini disebabkan karena pikiran Barat tentang Timur yang penuh dengan bayangan negative stereotip dan prasangka, akibatnya alam pikir Barat dan Timur tidak akan pernah bertemu. Sebaliknya menurut Timur, Barat digambarkan sebagai materialisme, kapitalisme, rasionalisme, dinamisme, saintisme, positivisme, dan sekularisme. Dan masih banyak lagi perbedaan yang timbul dari implementasi peradaban ini menurut beliau. Perbedaan – perbedaan tersebut menimbulkan pandangan hidup yang berbeda antara Barat dan Timur, dan sulit untuk menemukan jalan keluarnya karena memang didasari oleh peradaban yang berbeda pula.

C. Fungsi Kebudayaan Bagi Manusia

Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya. Kebutuhan- kebutuhan masyarakat tersebut sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaanyang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Karena kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan kebudayaan yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan.
Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi ataukebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan dalamnya. Berikut ini beberapa fungsi kebudayaan bagi masyarakat diantaranya :
a. Kasil karya manusia melahirkan teknologi dan kebudayaan kebendaan. Teknologi setidaknya memiliki dua kegunaan yakni melindungi masyarakat dari ancaman lingkungannya dan memberikan kemungkinan pada masyarakat untuk memanfaatkan alam. Contoh : untuk menghadapi kedinginan dan kehujanan ,manusia menciptakan rumah, payung, mantel, dan sebagainya. Demikian jugauntuk memenihi kebutuhannya akan bahan makanan maniusia menciptakan teknologi pertanian, seperti irigasi, pupuk, traktor pembibitan dan pencangkokan
b. Karsa Masyarakat yang menjari nilai-nilai sosial dapat menghasilkan tata tertib dalam pergaulan masyarakat. Karsa merupakan daya upaya manusia untuk melindungi diri dari kekuatan-kekuatan lain yang ada dalam masyarakat.  Untuk menghadapi kekuatan-kekuatan itu masyarakat menciptakan kaidah-kaidah yang pada hakikatnya merupakan petunjuk atau patokan tentang bagaimana manusia harus bertindak, berbuat, dan dapat menentukan sikapnya ketika berhubungan satu dengan yang lainnya. Kaidah yang timbul dari masyarakat ini dapat berupa adat istiadat atau sejumlah peraturan (hukum). Contoh : masyarakat islam Aceh sangat menjunjung tinggi kebudayaan islam serta hukum-hukumnya. Sehingga  sistem hukum yang diterapkan di Aceh adalah hukum yang sesuai dengan Al-Quran, sebagai gambaran bila seseorang mencuri maka tangan akan dipotong.
c. dalam kebudayaan terdapat pola-pola perilaku (patterns of  behavior) yang merupakan cara-cara masyarakat untuk bertindak atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut. Setiap tindakan manusia didalam masyarakat selalu mengikuti pola-pola perilaku masyarakat tadi. Khususnya dalam mengatur kehidupan manusia, kebudayaan dinamakan struktur normatif  atau designs  for living (garis-garis petunjuk dalam hidup). Artinya kebudayaan adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang harus dilakukan, apa yang dilarang, dan sebagainya. Contoh : peraturan-peraturan yang ada pada masyarakat jawa, semisal seorang perempuan tidak boleh duduk didepan pintu karena dapat menghambat jodoh,  larangan membuat rumah yang posisinya tusuk sate karena berada dalam posisi tidak menguntungkan atau jauh dari hoki dan sebagainya. (Kun Maryati, 2001:112)

D. Kearifan Lokal

Bila dilihat dari kamus Inggris Indonesia, maka pengertian keafiran lokal terdiri dari 2 kata, yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local). Local yang berarti setempat, sementara wisdom sama dengan kebijaksanaan.
Dengan demikian maka dapat dipahami, bahwa pengertian kearifan lokal merupakan gagasan-gagasan atau nilai-nilai, pandangan-padangan setempat atau (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
1. Kearifan Lokal di Bengkulu
Ada beberapa etnik yang bersinggungan langsung dengan alam diantaranya etnik Rejang dan Serawaiyang. Etnik Rejang memiliki kearifan dengan mengetahui zonasi hutan, mereka sudah menentukan imbo lem (hutan dalam), imbo u'ai (hutan muda) dan penggea imbo (hutan pinggiran). Dengan zonasi yang mereka buat, maka ada aturan-aturan tentang penanaman dan penebangan kayu. Hampir mirip dengan Etnik Rejang, Serawaiyang dikenal sebagai tipikal masyarakat peladang telah mengembangkan kearifan lokal dalam pembukaan ladang yaitu "celako humo" atau "cacat humo", dimana dalam pembukaan ladang mereka melihat tanda-tanda alam dulu sebelum membuka ladang dimana ada 7 pantangan yaitu:
- ulu tulung buntu, dilarang membuka ladang di hutan tempat mata air
- sepelancar perahu
- kijang ngulangi tai
- macan merunggu
- sepit panggang
- bapak menunggu anak
- dan nunggu sangkup
tujuh pantangan ini jika dilanggar akan berakibat alam dan penunggunya (makhluk gaib) akan marah dan menebar penyakit.

2.Kearifan Lokal di Yogyakarta
Pernah mendengar Gunung Kidul? Pasti bayangan kita langsung kekeringan. Benar saja, salah satu keunikan Gunung Kidul adalah kawasan Karst. Tetapi harus kita ingat bahwa kawasan ini telah dihuni selama berabad-abad oleh masyarakatnya bahkan dari zaman batu. Munculnya peradaban manusia yang berkembang pada kawasan ini menggambarkan bahwa masyarakat di kawasan ini telah dapat beradaptasi dengan kekeringan. Air menjadi sangat berharga di kawasan ini. Apakah tidak ada sumber air di kawasan ini? Oh kita jangan salah, kawasan ini memiliki sungai bawah tanah yang banyak sekali tetapi karena merupakan kawasan karst agak sulit untuk menaikkan air karena kedalamannya dan juga tipikal kawasan karst. Masyarakat di kawasan ini melakukan pemeliharaan cekungan-cekungan (sinkhole), mereka memodifikasi bagaimana cekungan ini sebagai tabungan air mereka dengan menata batu dan menanmi tanaman seperti jarak dan jati di sekitar bibir cekungan. Batu sebagai penyaring, sementara tanaman sebagai penyimpan air. Selain itu juga para penduduk juga menampung air ketika musim hujan tiba sebagai tabungan air ketika kemarau datang.

3. Kearifan Lokal Kediri
Cerita Panji mungkin bukan hal yang asing lagi terutama di tanah Jawa Timur. Cerita Panji adalah harta karun yang dimiliki Jawa Timur, lahir di Kediri berkembang sejak zaman Majapahit. Salah satu dongeng Panji adalah Enthit yang terkait dengan pertanian. Cerita semacam Enthit itu memberikan inspirasi mengapa timun dapat ditanam sampai mentheg-mentheg (gemuk dan menyenangkan). Mengapa berbagai sayuran itu tumbuh subur dan menyehatkan. Bagaimana petani pada masa itu memperlakukan lahannya. Bagaimana cara bercocok tanam, semuanya seolah-olah diserahkan pada kekuasaan alam belaka. Semuanya dilakukan dengan cara organik. Konsep pertanian dalam budaya Panji adalah soal tantra atau kesuburan. Jadi bagaimana memperlakukan tanah (lahan) seperti menyayangi istri dan ini hubungannya dengan konservasi alam.

4. Kearifan Lokal di Sumatera Utara
Sumatera Utara memiliki sekelompok masyarakat yang dikenal sebagai Parmalim berpusat di Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Parmalim menekankan lingkungan hidup pada dasarnya memberi dukungan terhadap kelangsungan hidup manusia, maka sewajarnya manusia juga memberi dukungan terhadap lingkungan hidup. Air adalah sumber kehidupan, maka kita harus memberi dukungan terhadap semua hal yang berkaitan dengan pelestarian air. Pada saat menebang pohon, maka bisa dilakukan jika sebelumnya sudah cukup banyak menanam tunas baru, selain itu aturan penebangan juga dengan cara bahwa penebang tidak boleh merobohkan pohon besar sampai menimpa anak pohon lain, jika terjadi maka penebang harus diganti orang lain. Selain itu juga dalam memetik umbi-umbian yang menjalar, umat Parmalim harus menyisakan tunas sehingga bisa tumbuh kembali. Selain Parmalim, sebenarnya di Tanah Batak telah sejak lama nenek moyangnya mengelola hutan, sehingga dahulu sangat banyak ditemukan pohon-pohon besar yang berumur sudah tua. Masuknya teologi para misionaris yang sempit serta orang-orang Batak yang sudah beragama menimbulkan banyak kerusakan hutan. Pepohonan besar dan tua ditebang dengan maksud untuk membuktikan bahwa pohon tersebut tidak punya kuasa dan tidak layak disembah.Padahal dahulu para leluhur orang Batak menggunakan pohon tersebut sebagai tempat ritual untuk menyembah Yang Maha Kuasa yang sering dikenal sebagai Debata Mula Jadi na Bolon, atau Allah yang bagi orang Kristen dan Muslim yang menggunakan Gereja ataupun Masjid sebagai tempat ritualnya.Pemahaman agama yang sempit ini juga akhirnya turut serta menghancurkan lingkungan.
Dimanapun kita berada akan sangat bijak untuk juga bisa memahami kearifan lokal yang ada di tempat itu, sebagai orang yang terdidik seharusnya kita memiliki kecenderungan dan kepedulian sehingga perilaku kita turut menjaga lingkungan lestari sebagai warisan abadi bagi generasi mendatang.

DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Sujarwa. 1999. Manusia dan Fenomena Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2001. Sosiologi 3. Jakarta: Gelora Aksara Pratama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar